Evaluasi Pelaksanaan SIMPLI

Sudah menjadi ‘tradisi’ para peneliti SMARThealth yang selalu melakukan evaluasi di setiap pelaksanaan program. Begitu pula halnya ketika mengimplementasikan SMARThealth yang berkelanjutan, atau yang dikenal dengan SIMPLI (System-level interventions to improve the availability, accessibility and quality use of essential medicines for cardiovascular disease prevention in Indonesia), yang dilaksanakan di Kelurahan Kepanjen (Kecamatan Kepanjen) dan Desa Sepanjang (Kecamatan Gondanglegi) dari  Januari sampai dengan Juli 2019.
Evaluasi program hadir untuk memberikan masukan, kajian dan pertimbangan dalam menentukan apakah program SMARThealth yang berkelanjutan (sustainable SMARThealth) layak untuk diteruskan atau tidak. Dengan kondisi yang demikian maka istilah evaluasi program menjadi sesuatu yang lumrah dalam pelaksanaan SIMPLI ini.

Foto: FGD Pasien High Risk Laki-laki di RW. 01 Kepanjen

Rutman & Mowbray (1983) mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan. Eleanor Chelimsky (1989) mendefinisikan evaluasi adalah suatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program.
Jadi, evaluasi dalam SIMPLI ini adalah melihat apa yang telah dilakukan, apa yang telah dicapai dan bagaimana mencapainya. Ada 2 evaluasi dalam pelaksanaan SIMPLI yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi yang sifatnya formatif dilakukan ditengah berlangsungnya pelaksanaan SIMPLI agar terjadi perbaikan, dan evaluasi yang bersifat sumatif dengan mengambil pelajaran dari pelaksanaan SIMPLI yang sudah selesai.

Foto: FGD Ponkesdes Panji Husada Kepanjen

Dalam evaluasi formatif, peneliti SMARThealth menggunakan instrumen monitoring yang informasinya dikumpulkan secara rutin dan sistematis dan sesuai rencana oleh Pengawas Desa (fasilitator SMARThealth).
Informasi tersebut terbagi menjadi 4 komponen. Komponen 1 berisi informasi tentang jadwal kunjungan dokter Puskesmas ke Ponkesdes/Posbindu, jadwal kunjungan perawat ke kegiatan Posbindu, jumlah hari Ponkesdes buka/memberi layanan, jumlah hari Posbindu memberikan layanan, jumlah pasien lama yang datang kembali ke Ponkesdes/Posbindu tiap bulan untuk meminta obat, jumlah pasien risiko tinggi yang datang ke Ponkesdes/Posbindu untuk konsultasi dengan dokter, total jumlah pasien yang datang ke Ponkesdes/Posbindu tiap bulannya, total jumlah pasien non CVD yang datang ke Ponkesdes/Posbindu tiap bulannya serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan kebijakan 30 hari minum obat.

Foto: FGD Tokoh Masyarakat Sepanjang

Komponen 2 berupa informasi tentang jumlah laptop masing-masing Ponkesdes beserta wireless internetnya, jumlah kegiatan Ponkesdes/Posbindu di mana laptop digunakan untuk entry data secara langsung, jumlah stock obat CVD dan diabetes yang ada di Ponkesdes tiap bulannya, jumlah stock obat CVD dan diabetes yang dibawa ke Posbindu tiap bulannya, jumlah pelatihan/penyegaran materi dokter/perawat dan peserta yang hadir, jumlah pelatihan/penyegaran materi kader dan kader yang hadir, serta faktor pendukung dan penghambat implementasi ePuskesmas/SIMKESMAS.
Komponen 3 berisi informasi mengenai jumlah monitoring kader oleh perawat/bidan, jumlah kehadiran kader dalam pertemuan rutin bulanan, capaian target skrining dan follow up oleh kader, catatan umpan balik kader, serta faktor pendukung dan penghambat kinerja kader.

Foto: FGD Pasien High risk Laki-laki RW. 04 Sepanjang

Komponen 4 memuat informasi perihal jumlah penyuluhan dokter di Ponkesdes/Posbindu, jumlah promkes dan acara olahraga sehat per bulan, jumlah orang yang hadir dalam acara promkes dan olahraga tersebut, kelompok yang ikut dan kelompok yang tidak ikut dalam acara promkes dan olahraga, proporsi peserta yang hadir maupun yang tidak hadir mempraktekkan hasil promkes dan olahraga tiap bulannya, data gula darah, BMI, lingkar perut peserta tiap bulannya, jumlah pasien risiko tinggi yang di follow up kepatuhan minum obat setiap dua minggu oleh kader, jumlah pasien risiko tinggi yang penuh mengisi kalender obat tiap bulannya, jumlah pasien risiko tinggi yang minum obat, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan promosi kesehatan (promkes) selama pelaksanaan SIMPLI.
Informasi dalam instrumen tersebut dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menyangkut kegiatan yang dilakukan oleh Ponkesdes dan kader, dan dari situlah peneliti SMARThealth memulai evaluasi pelaksanaan SIMPLI.

Foto: Indepth dengan Promkes Dinkes Kab. Malang

Sedangkan, evaluasi sumatif dilaksanakan setelah temuan dari hasil evaluasi formatif ini dipresentasikan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, dan BPJS Malang melalui workshop replikasi program SMARThealth yang diselenggarakan pada 23 Juli 2019.
Evaluasi sumatif ini dilakukan dengan cara Focus Group Discussion (FGD) dan indepth interview (wawancara mendalam) terhadap pelaku yang terlibat dalam SMARThealth yang berkelanjutan.
Target sasaran dalam FGD ini meliputi kader Kepanjen dan Sepanjang, pasien high risk (pria dan wanita) di tiap RW di Kepanjen dan Sepanjang, komunitas (masyarakat yang ada di sekitar kediaman pasien high risk), serta tokoh masyarakat di Kepanjen dan Sepanjang. Sedangkan target sasaran dalam indepth interview adalah perawat/bidan Ponkesdes di Kepanjen dan Sepanjang, Lurah Kepanjen dan Sepanjang, dokter dan bagian farmasi di Puskesmas Kepanjen dan Sepanjang, bagian PTM Dinkes, bagian Promkes Dinkes, bagian Evapor Dinkes, dan Gudang Farmasi Kabupaten (GFK).
Pelaksanaan FGD dan indepth interview berlangsung selama 3 bulan lamanya, dimulai dari 24 Juli 2019 dan berakhir pada 24 Oktober 2019. Hasil FGD dan indepth interview pada tahap berikutnya memasuki tahap transkrip. Hasil transkrip ini yang bakal menjadi bahan untuk analisa para peneliti SMARThealth. *** [261019]

0 Comments: