Kunjungan Tim BPP Kemendagri untuk Validasi IGA 2019 di Kabupaten Malang

Kunjungan Tim Badan Penelitian dan Pengembangan (BPP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk validasi Innovative Government Award (IGA) 2019 di Kabupaten Malang berlangsung pada hari Kamis, 12 September 2019.
IGA, atau Penghargaan Pemerintah Daerah Inovatif, adalah penghargaan yang diberikan kepada pemerintah provinsi sebagai apresiasi atas inovasi daerah yang telah berhasil dilakukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi, dan Kabupaten/Kota. Yang dimaksud dengan inovasi daerah di sini adalah semua bentuk pembaharuan dalam penyelenggaraan Pemerintah Daerah (UU no. 23 tahun 2014 pasal 386 ayat 2). Sedangkan pengertian Pemerintah Daerah Inovatif adalah Pemerintah Daerah yang telah berhasil melakukan berbagai inovasi daerah, baik inovasi dalam bentuk Tata Kelola Pemerintahan Daerah, Pelayanan Publik dan Inovasi bentuk lainnya sesuai dengan kewenangan daerah.


Tim BPP yang terdiri Ketua Tim Ray Septianis Kartikas, M.Si, dan dua anggota Tim, yaitu Meisya Mardhatillah, S.STP dan Siti Aisyah ini akan mengadakan penilaian yang meliputi inovasi dan pelayanan publik. Di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Tim BPP melihat satu per satu inovasi yang ditampilkan di sana. Salah satu inovasi yang dilihat adalah SMARThealth yang dinominasikan ke dalam IGA oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Nomor: 440/47/KEP/35.07.103/2019 tentang Penetapan Inovasi  Dan Replikasi Pelayanan Publik Bidang Kesehatan Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Tahun Anggaran 2019.
Di stand SMARThealth, Ketua Tim BPP mencoba keunggulan aplikasinya dengan mengikhlaskan diri berperan menjadi responden untuk diwawancarai dengan menggunakan Tablet dan sekaligus diukur tensi, gula darah dan kolesterolnya. Penjelasan kepada Tim BPP dilakukan oleh Fida Retno Susanti, staf PTM Dinkes Kabupaten Malang, dan pengukuran tensi, gula darah maupun kolesterol dilakukan oleh Agustin Shintowati, kader terlatih Kepanjen.


Dalam penilaian itu, Tim BPP juga bertanya langsung kepada kadernya perihal peran kader, apa semua kader dibekali Tablet, siapa yang meresepi obat seandainya terindikasi berisiko tinggi serta apa manfaat SMARThealth terhadap masyarakat sekitar.
Pada saat audiensi dengan Plt. Bupati Malang, Drs. H.M. Sanusi, MM, Tim BPP memaparkan tentang cara melakukan penilaian terhadap inovasi yang dilakukan oleh Tim BPP, yaitu melihat aplikasinya, validasi di lapangan, dan yang tak kalah pentingnya adalah presentasi dari Kepala Daerah.


Pada kompetisi yang digelar oleh Kemendagri tersebut, Kabupaten Malang harus bersaing dengan 551 daerah. Terdiri dari 34 provinsi, 420 kabupaten, dan 97 kota yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.
Dilihat dari cara penilaian ini sesungguhnya SMARThealth memiliki peluang besar untuk mendapatkan IGA tersebut. Dilihat dari aplikasinya, SMARThealth bisa memunculkan hasilnya saat itu juga setelah kader melakukan wawancara dan melakukan pengukuran kepada pasien. Seandainya nantinya Tim BPP ingin melihat kegiatan SMARThealth di lapangan, pemeriksaan pasien di Posbindu bisa menjadi otentisitas program.
Kemudian untuk mempersiapkan presentasi oleh Bupati yang menurut Ketua Tim BPP memiliki nilai penentu, data-data hasil riset kuantitatif maupun kualitatif SMARThealth ditambah dengan rencana replikasi oleh Pemkab Malang dapat dijadikan bahasan yang menarik dalam presentasi tersebut.
Namun dari itu semua, keunikan dari SMARThealth itu sesungguhnya tercermin juga dari adanya pemberdayaan kader kesehatan. Kader kesehatan yang terlatih itu mampu mengisi kekurangan waktu petugas kesehatan dalam melakukan skrining kepada masyarakat pada umumnya. Hal inilah yang menjadikan SMARThealth senantiasa dinamis. *** [120919]


0 Comments: